Minyak Kelapa Murni Bantu Kesembuhan Pasien COVID-19

  • Share

Banyak pasien positif COVID-19 di Indonesia memakan berbagai jenis suplemen makanan, di luar yang diberikan, dengan atau tanpa persetujuan pakar medis. Khasiatnya dituturkan dari mulut ke mulut, karena itu pilihannya pun berbeda-beda.

Sejak dinyatakan positif COVID-19 pada pertengahan Maret 2021, Agus, seorang warga Yogya rajin mengonsumsi suplemen makanan di tengah isolasi mandiri yang dijalani. Daftarnya cukup panjang, seperti Qusthul Hindi dari India, herbal China yang dia lupa namanya, sampai multivitamin, meski dia mengaku tidak semua disukainya.

“Saya setiap hari, pagi, siang malam, lebih banyak menggunakan suplemen seperti sari kurma, madu, dan herbal lain termasuk dari negeri China, tapi saya lebih senang sari kurma dan madu,” kata Agus kepada VOA.

Pekerja pemeliharaan Filipina Kelapa Murni dalam kemasan baru di sebuah perkebunan di Provinsi Quezon, selatan Manila, sebelum dikirim ke supermarket dalam gambar ini, 11 Agustus 2004. (Foto: Reuters)

Pekerja pemeliharaan Filipina Kelapa Murni dalam kemasan baru di sebuah perkebunan di Provinsi Quezon, selatan Manila, sebelum dikirim ke supermarket dalam gambar ini, 11 Agustus 2004. (Foto: Reuters)

Begitu warga pula Yogya yang lain, Dyah Arbatun yang dinyatakan positif pada Februari lalu.

“Dia konsumsi sambiloto, madu pahit, terus rutin habatussauda, ​​minumnya teh bunga telang, dan juga Lian Hua. Pokoknya ada saran dari mantan pasien yang sudah sembuh, ya dijadikan referensi. Usaha biar lekas sehat, ”ujar Dyah.

Masyarakat Indonesia sejak lama sebagai sejumlah besar tanaman yang bisa digunakan obat atau jamu untuk merawat kesehatan. Dalam kasus COVID-19, tradisi ini juga menjadi panduan bagi pasien untuk mengupayakan kesembuhan. Mereka memilih suplemen tradisional, biasanya karena mantan saran pasien dan berbekal kepercayaan.

VCO Dinilai Berdampak

Tidak semua bahan alam yang dikonsumsi pasien COVID-19 dipilih karena upaya coba-coba saja. Pendekatan ilmiah untuk potensi alam Indonesia ini juga dilakukan, misalnya oleh sebuah tim dokter di Yogyakarta. Kajian ini dipaparkan dalam diskusi Uji Klinis dan Penanganan COVID-19, oleh Pusat Kedokteran Herbal, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan, Universitas Gadjah Mada (FKKMK UGM), Kamis (15/4).

Ketua Tim Airborne Disease RSUP Dr Sardjito, Ika Trisnawati.  (Foto: Humas Sardjito)

Ketua Tim Airborne Disease RSUP Dr Sardjito, Ika Trisnawati. (Foto: Humas Sardjito)

Berbicara dalam diskusi ini, dr. Ika Trisnawati, M.Sc., Sp.PD., KP., FINASIM, yang merupakan pakar Pulmonologi sekaligus Ketua Tim Penyakit Tulang Udara, RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta. Bahan alami yang dijadikan uji coba bagi pasien COVID-19, adalah minyak kelapa murni yang lebih dikenal sebagai Minyak Kelapa Murni (VCO). Bahan ini berfungsi sebagai terapi ajuvan atau tambahan bagi pasien, dan diujicobakan di empat rumah sakit, yaitu RSUP Dr. Sardjito, RSA UGM, RSUD Wonosari, serta RSUD Sleman.

VCO, kata Ika, dipilih karena diketahui memiliki senyawa antivirus yang baik, seperti asam laurat (C12) dan monolaurin (ML) beserta derivatnya.

Suplemen tambahan yang tidak percaya sebagian pasien COVID-19 membantu kesembuhan.  (Foto: VOA / Nurhadi Sucahyo)

Suplemen tambahan yang tidak percaya sebagian pasien COVID-19 membantu kesembuhan. (Foto: VOA / Nurhadi Sucahyo)

“VCO merupakan asam lemak rantai sedang (MCA) yang mengandung asam laurat, diubah menjadi monogliserida monolaurin, yang mempunyai efek antiviral dengan cara menghancurkan membran lipid virus, ”paparnya.

Penjelasan sederhana dari paparan dr Ika di atas dapat digambarkan sebagai berikut. Di dalam tubuh, VCO bekerja serupa dengan sabun, yang mampu merusak membran sel pada virus. Ketika masuk ke tubuh, VCO kemudian diubah menjadi monolaurin, dan A dengan membran sel virus. Interaksi itu membuat lapisan lipid rusak dan tidak berfungsi, sabun membunuh virus di jari-jari, ketika proses cuci tangan berlangsung.

Dalam awal di empat rumah sakit itu, konsumsi VCO bagi pasien COVID-19 penelitian terbukti membawa hasil signifikan, terutama bagi mereka dalam kelompok ringan dan sedang.

Riset Dilakukan LIPI

Peneliti dari Pusat Penelitian Bioteknologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dr Masteria Yunovilsa Putra juga berbagi riset mereka dalam bidang ini.

Dr Masteria Yunosilva Putra, Koordinator Penelitian Penemuan dan Pengembangan Obat di Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI.  (Foto: Istimewa / LIPI)

Dr Masteria Yunosilva Putra, Koordinator Penelitian Penemuan dan Pengembangan Obat di Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI. (Foto: Istimewa / LIPI)

“Kami melakukan pencarian anti SarsCov2 dari biodiversitas Indonesia, baik itu dari laut dan darat. Kami melakukan koleksi, baik itu tanaman, organisme laut, baik itu makro dan mikronya, juga tanaman herbal Indonesia yang sudah mempunyai ekstrak ter-standarnya, ”ujar Putra.

LIPI telah memiliki daftar senyawa-senyawa yang aktif sebagai antivirus dalam penelitian sebelumnya, seperti HIV dan HPV. Senyawa inilah yang kemudian menjadi pilihan pertama untuk melihat hasil kerja, ketika digunakan untuk virus SarsCov2.

Setidaknya ada 25 ekstrak tanaman yang sudah terstandarisasi dari sisi industri. Dari studi literatur yang dilakukan, seluruh ekstrak tanaman dalam daftar itu yang berpotensi melawan SarsCov 2 dan membantu daya tahan tubuh. Mulai dari organisme laut, LIPI juga sudah memiliki daftar makro organisme organisme, yang sudah pernah diujikan untuk virus. Tes ini dilakukan sebelumnya untuk HIV, SarsCov 1, MERS, dan H1N1.

“Semuanya sudah ada di Indonesia. Ada lima senyawa yang sangat menarik untuk belajar lebih lanjut, ”ujar Putra.

Tetap Hati-hati

Para ibu memarut kelapa yang akan dibuat menjadi VCO (foto: courtesy).

Para ibu memarut kelapa yang akan dibuat menjadi VCO (foto: courtesy).

Dalam diskusi yang sama, Riri Indriani dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), mengaku potensi bahan alam Indonesia sangat banyak.

“Ini memberi peluang sebagai produk jamu, baik itu Obat Herbal Terstandar (OHT) dan fitofarmaka. Namun sampai saat ini baru 26, yang menjadi fitofarmaka, ”kata Riri.

OHT adalah obat herbal yang telah melewati proses standarisasi dan uji pra-klinik pada hewan percobaan. Fitofarmaka telah melewati proses lebih jauh, terbukti terbukti dan khasiatnya secara ilmiah dalam uji praklinik dan uji klinik pada manusia. Bahan baku dan produk jadi korban sudah distandarisasi.

BPOM berharap produk alam Indonesia tidak hanya menjadi bahan penelitian dan tidak berhenti pada publikasi. Para peneliti harus memiliki keinginan untuk menindaklanjuti hasil penelitian itu.

BPOM sendiri telah menerbitkan buku informatorium obat modern asli Indonesia. Ini merupakan pusat informasi tentang obat bahan alam, yang telah disetujui dan digunakan sebagai OHT dan fitofarmaka. Masyarakat diharapkan tidak terbuai iklan, dan mengonsumsi produk-produk yang belum masuk dalam daftar tersebut. [ns/ab]

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.