Tahapan Proses Produksi Budidaya Tanaman Pangan di Bidang Pertanian

Kontributor: Erika Erilia
tirto.id - 25 Nov 2021 21:45 WIB

View non-AMP version at tirto.id

Tahapan proses produksi pada budidaya tanaman pangan yang kerap dilakukan di Indonesia

tirto.id - Budi daya tanaman pangan adalah upaya untuk menghasilkan makanan dengan cara menanam tanaman layak konsumsi di suatu lahan pertanian. Hasil budi daya tersebut tak hanya untuk memenuhi kebutuhan pangan sendiri, tetapi juga diperdagangkan atau dijual kembali sebagai sumber pendapatan petani.

Dari definisinya, tanaman pangan adalah seluruh jenis tanaman yang menjadi sumber karbohidrat utama dan juga mengandung protein. Contoh tanaman pangan yang sering dibudidayakan di Indonesia adalah padi, jagung, umbi-umbian, kedelai, dan kacang-kacangan.

Untuk mendapat hasil terbaik, budi daya tanaman pangan harus dilakukan dengan baik dan benar. Ada beberapa tahapan penting dalam budi daya tanaman pangan yang berkaitan dengan lahan, benih, pupuk, pengairan, serta pengendalian hama.

Tahapan Budidaya Tanaman Pangan

Tahapan proses dalam produksi budi daya tanaman pangan terdiri dari pengolahan lahan, persiapan benih dan penanaman, pemupukan, pemeliharaan, pengendalian organisme pengganggu tanaman, hingga proses pemanenan.

Untuk lebih jelasnya, berikut ini penjelasan rinci tahap-tahap budidaya tanaman pangan seperti dikutip dari buku Prakarya dan Kewirausahaan (2017) yang ditulis Hendriana Werdhaningsih, dkk.

1. Pengolahan Lahan

Lahan yang siap untuk ditanami adalah lahan yang sudah diolah terlebih dahulu dengan cara dibajak, lalu dihaluskan sampai gembur.

Pembajakan lahan dapat dilakukan secara manual, dicangkul, dibajak menggunakan bantuan hewan, hingga dengan traktor. Berikut ini standar penyiapan lahan yang harus dipenuhi:

2. Persiapan Benih dan Penanaman

Persiapan benih penting dilakukan agar budi daya tanaman pangan menghasilkan produk yang berkualitas.

Ketika memilih benih, tentukan yang punya kualitas terbaik. Ciri benih yang baik adalah benih dari varietas unggul, benihnya sehat, memiliki vigor (sifat benih) yang baik, dan tidak memiliki atau menularkan organisme pengganggu tanaman (OPT).

Berikut hal-hal yang harus diperhatikan dalam mempersiapkan benih sekaligus penanamannya:

3. Pemupukan Tanaman

Tujuan pemupukan adalah memberi nutrisi pada tanaman agar bisa tumbuh dan berkembang dengan optimal.

Pemupukan harus dilakukan secara tepat, dengan memperhatikan ketepatan jenis, mutu, waktu, dosis, hingga cara pemupukannya.

Pertama, tepat jenis: pupuk harus mengandung unsur hara makro dan mikro yang disesuaikan dengan kebutuhan tanaman dan kondisi kesuburan tanah.

Kedua, tepat mutu: pupuk yang digunakan harus memiliki mutu yang baik dan sesuai standar.

Ketiga, tepat waktu: pupuk diberikan sesuai kebutuhan dengan memperhatikan stadia/fase pertumbuhan tanaman dan kondisi lapangan.

Keempat, tepat dosis: pupuk diberikan sesuai dengan jumlah yang dianjurkan.

Kelima, tepat cara: aplikasi pemberian pupuk sesuai dengan tanaman dan kondisi tanah.

Selain itu, pemberian pupuk juga sebaiknya mengacu pada analisis kesuburan tanah dan tanaman. Analisis ini lazimnya dilakukan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP).

Selanjutnya, langkah-langkah pemberian pupuk yang benar adalah sebagai berikut:

Penyemprotan pupuk cair secara langsung pada tanaman (foliar spray) tidak meninggalkan residu zat kimia berbahaya, terutama ketika sudah dipanen.

4. Pemeliharaan Tanaman

Pemeliharaan tanaman meliputi penyiraman, penyulaman (mengganti tanaman mati/rusak), dan pembumbunan (tanah digundukkan di pangkal batang tanaman).

Setiap tanaman memiliki kekhasan masing-masing. Pemeliharaan harus dilakukan sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan spesifik tanaman pangan. Hal ini berguna agar tanaman dapat tumbuh secara optimal dan menghasilkan produk pangan bermutu tinggi.

Pemeliharaan juga dilakukan dengan menjaga tanaman agar terhindar dari gangguan hewan, baik hewan liar, ternak, atau hewan lainnya.

5. Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT)

Pengendalian OPT dapat dilakukan dengan menggunakan pestisida. Kendati demikian, pestisida yang digunakan mesti seminimal mungkin untuk mengurangi residu ketika tanaman dipanen.

Karena itulah, dianjurkan untuk menggunakan pestisida hayati yang mudah terurai, tidak meninggalkan residu, serta tidak berbahaya bagi manusia dan ramah lingkungan.

Standar penggunaan pestisida dalam budidaya tanaman adalah sebagai berikut.

Pertama, penggunaan pestisida harus tepat jenis, tepat dosis, tepat mutu, tepat konsentrasi, tepat waktu, tepat sasaran, serta tepat cara dan alat yang dipakai.

Kedua, penggunaan pestisida tidak membahayakan kesehatan pekerja. Pekerja disarankan memakai pakaian pelindung khusus saat mengaplikasikan pestisida.

Ketiga, penggunaan pestisida harus ramah lingkungan dan tidak memberikan dampak negatif pada biota tanah dan biota air.

Keempat, tata cara aplikasi pestisida harus sesuai dengan aturan yang tertera pada labelnya.

Kelima, pestisida dengan residu berbahaya bagi manusia dilarang diaplikasikan menjelang atau saat panen.

Selanjutnya, penggunaan pestisida juga harus mengikuti standar pengendalian OPT seperti berikut:

6. Panen dan Pasca Panen

Tahap akhir dari proses budi daya tanaman pangan adalah panen. Pemanenan tanaman pangan harus dilakukan pada waktu yang tepat agar kualitas hasil produk tanaman pangan juga optimal ketika dikonsumsi.

Selain itu, Penentuan masa panen yang tepat berbeda untuk setiap tanaman pangan dan harus mengikuti standar yang berlaku. Standar panen yang baik adalah sebagai berikut: