Nilai Nilai Pertanian Alami

Pernahkah anda menggunakan perasaan ketika memupuk tanaman? tanya seorang nara sumber dalam suatu diskusi pada Pelatihan Pertanian Alami yang diselenggarakan oleh Institut Janong (lembaga yang mengembangkan pertanian alami) di Pulau Jeju, Korea Selatan pada penghujung 2007. Tentu saja, tidak sedikit peserta yang bertanya-tanya dalam hati.

Sadarkah Anda, semakin banyak Anda memberi pupuk kepada tanaman, semakin membuat tanaman menderita. Mula-mula tanaman merasa bosan diberi pupuk, lama-kelamaan ia keracunan, lalu sakit-sakitan, dan akhirnya “ngambek” alias tidak mau berproduksi lagi.

Sebaliknya, memelihara tanaman dengan kasih sayang dan perasaan, dan memperhatikan kebutuhannya, akan membuat tanaman rajin berproduksi. Itulah salah satu prinsip pertanian alami.

Kehadiran Pertanian Alami

Pengetahuan tentang cara bertani alami terus mengalir ke segala penjuru semenjak metode ini diperkenalkan oleh Dr Cho Han Kyu tahun 2006 di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Puluhan petani telah termotivasi untuk melakukan metode bertani alami ini. Bahkan ada sekolah-sekolah di beberapa daerah sekitarnya yang siswanya mempraktikkan dan mengembangkan pertanian alami ini di halaman sekolah.

IMG_4572

Staf Sekertariat Bina Desa menyaksikan liputan khusus tentang komunitas dampingan Bina Desa di Sulawsi dalam pengembangan pertanian alami dan kedaulatan pangan (25/2)

“Mempraktikkan cara-cara pertanian alami memberi kemudahan budi daya dan keuntungan ekonomi kepada petani,” jelas Pak Soeparno, salah seorang petani dari Kabupaten Banjarnegara yang menerapkan pertanian alami. Apakah pertanian alami hanya sekedar mencari keuntungan ekonomi semata? Mari kita gali lebih jauh.

Sebagai sebuah metode pertanian yang menggunakan bahan-bahan dari alam dan tanpa bahan kimia, pertanian alami tidak hanya berkutat memecahkan persoalan teknis semata, tetapi juga mengandung nilai-nilai luhur yang harus dijiwai oleh setiap orang yang menerapkannya. Nilai-nilai tersebut adalah:

  1. 1.  Menghargai. Pertanian alami mengikuti hukum alam, memadukan kebijaksanaan dan kerja dengan unsur-unsur alam. Karena sesungguhnya kerja-kerja di pertanian adalah pekerjaan yang menghasilkan makanan bagi kehidupan manusia melalui kerja-kerja bersama alam. Sehingga siapa pun yang ingin melakukan pertanian alami, penting bagi nya untuk memperhatikan dan menghargai hukum alam. Alam memiliki hukum-hukum yang memberikan keterbatasan bagi kebutuhan pakan kita. Bahwa semua kehidupan yang ada di alam memiliki peran dan semuanya patuh/setia pada peran tersebut, menghargai peran makhluk lain, serta memahami bahwa semua unsur tersebut saling tergantung dan membutuhkan. Tuhan menciptakan segala sesuatu di alam semesta ini dengan fungsi dan perannya masing-masing, sehingga selayaknya lah manusia sebagai makhluk yang diberi karunia akal budi untuk menjadi pemimpin terdepan dalam memelihara alam beserta isinya.
  2. 2.  Menyayangi. Semua makhluk hidup mempunyai perasaan, termasuk tanaman dan ternak. Pada umumnya, manusia cenderung selalu berpikir tentang unsur-unsur pertanian yang kelihatan, seperti pupuk, benih, dan pestisida. Manusia dengan ego nya, memaksa tanaman/ternak menuruti kemauannya agar berproduksi tinggi dengan berbagai cara yang ditentukan nya. Namun manusia lupa, tanaman/ternak juga punya perasaan, hati, dan hak asasi yang harus dihargai dan dihormati oleh makhluk hidup lain. Manusia yang menghargai hak asasi tercermin ketika ia juga menghargai hak tanaman/hewan (makhluk hidup). Tanaman/ternak membutuhkan ”feeling spirit”. Dengan kata lain, tanaman/ternak juga membutuhkan pelayanan manusia sepenuh hati dan cinta kasih. Jika interaksi antara manusia dan tumbuhan/ternak sudah terjalin dengan baik, saling memahami perasaan/hati masing-masing, hubungan yang terbangun akan memberikan hasil yang terbaik bagi satu sama lain. Tanaman/hewan yang disayang akan mengerahkan semua kemampuan nya untuk menghasilkan, karena diakui keberadaan nya oleh makhluk hidup lain. Nah, pertanian alami memaksimalkan potensi bawaan suatu makhluk hidup melalui keharmonisan dengan lingkungan sekeliling nya.
  3. 3.  Membebaskan. Sejak pertanian modern (pertanian yang sarat bahan kimia dan unsur-unsur tidak alami) menggusur pertanian tradisional, petani kehilangan martabatnya sebagai manusia. Petani dipaksa menyerahkan kehormatan nya kepada industri agrobisnis yang hanya mengejar produksi demi keuntungan materi. Petani harus mengubur dalam-dalam pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki nya selama turun-temurun, karena cara-cara bertani nya dianggap salah. Jika petani tetap meneruskan cara bertani seperti itu, tidak sedikit yang tersingkir dari dunianya. Martabat petani yang seharusnya dihargai dengan kearifan pengetahuan lokal yang dimiliki nya, gugur demi uang. Misalnya, mereka harus membeli pupuk pabrikan, membeli benih dari penyalur, atau harus menyemprot pestisida kimia yang membahayakan kesehatan dan lingkungan. Padahal, pertanian alami adalah sistem pertanian yang membebaskan petani untuk berinteraksi langsung dengan alam sekitar tanpa harus tergantung pada salah satu produsen benih, pupuk atau pestisida. Menggunakan mikroba-mikroba lokal, nutrisi yang bersumber dari sumber daya di lokasi petani adalah cara-cara pertanian alami untuk melepaskan diri dari ketergantungan produk luar. Sehingga petani menjadi subyek yang mampu mengendalikan alat dan input-input produksi nya.
    1. 5.  Saling Berbagi. Saling berbagi di antara petani dan kebebasan melakukan uji coba adalah salah satu ciri pertanian alami. Namun cara seperti ini tentu saja akan bertabrakan dengan pertanian modern yang mendidik petani menjadi individualis dan harus mengikuti pola-pola bertani yang ditetapkan oleh pihak yang mendukung pertanian modern. Oleh karena itu, pertanian alami menjadi sebuah pilihan bagi kita untuk meraih kehidupan yang lebih bermartabat, lebih menghargai sebuah proses dibanding hasil semata, serta memelihara kehidupan dengan penuh cinta kasih, baik untuk petani, konsumen, maupun alam sekitar.
    2. 6.  Kesetaraan. Sejak Dr. Cho Han Kyu memperkenalkan pertanian alami, metode ini kini menjadi milik semua orang. Semua orang adalah guru dan semua tempat adalah sekolah merupakan kalimat yang tepat untuk pertanian alami. Artinya, semua orang di semua tempat dapat melakukan pertanian alami. Siapa pun dia, laki-laki, perempuan, tua, muda, anak-anak, dapat menjadi sumber pengetahuan, karena pengalaman setiap orang di manapun berada akan beragam. Oleh karena itu, setiap orang yang sudah mempraktikkan pertanian alami, akan membuka diri untuk menjadi murid dan guru bagi orang lain seperti yang dilakukan oleh Dr Cho. Ia berpesan kepada semua orang yang mempraktikkan pertanian alami supaya saling berkomunikasi agar ilmu ini terus berkembang.
    3. 7.  Keberlanjutan. Menerapkan sistem pertanian alami berarti mengelola dan merawat lingkungan atau alam sekitar. Nutrisi atau mikroba yang digunakan dalam metode pertanian alami ini berasal dari bahan-bahan yang tersedia di lokasi. Tak ada limbah, karena semua materi akan didaur ulang menjadi bahan yang bermanfaat, seperti kotoran ternak, daun tanaman, atau sisa makanan dapat menjadi pupuk. (*)

 

ARTIKEL TERKAIT

ToT Kajian Pertanian Alami: Bertani Alami Untuk Rawat Ekologi dan Sajikan Pangan Sehat

TOT Kajian Kerentanan Iklim: Bumi Kuat, Pangan Sehat, Desa Berdaulat

Forum Pendidikan: Pertanian Alami Sebagai Wujud Nyata Kedaulatan Pangan oleh Serikat Petani Alami (SPA) Butta Toa

SPA BUTTA TOA MELANJUTKAN KAYUH GERAKAN PERTANIAN ALAMI DI BANTAENG

Komunitas SAC Mulai Mengembangkan Pertanian Alami

Melepas Ketergantungan dengan Pertanian Alami