Bagaimana Cara Wujudkan Pertanian Berkelanjutan pada Kedelai di Indonesia ?


Ditulis oleh: Hafid Alwi (171510701001)
Penulis adalah Mahasiswa Program Studi Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Jember

Lahan sebelum ditanami kedelai perlu dibersihkan dahulu gulma-gulma yang masih hidup agar tidak mengganggu proses budidaya tanaman kedelai. Proses selanjutnya yakni membuat bedengan selebar 1,2×1,3 meter, atau 1,2×1,2 meter. Langkah berikutnya, membuat jarak tanam 20×20 cm. Persiapan lahan pada lahan kering yakni tanah dibajak dua kali sedalam 30 cm dari permukaan tanah. Persiapan lahan pada lahan sawah dilakukan dengan sistem monokultur, dimana tanah dibersihkan dari jerami kemudian tanah diolah satu kali. Jika keadaan lahan tanah mengalami masam, maka perlu penamabahan kapur bersamaan dengan pengolahan lahan yang kedua atau paling lambat seminggu sebelum tanam agar PH yang diperlukan oleh tanah sesuai, selanjutnya dengan pengapuran menggunakan dolomit dengan cara menyebar rata dengan dosis yang diperlukan dan sesuai dengan keadaan tanah.

Langkah berikutnya yakni pembuatan saluran drainase setiap 4 meter. Drainase dibuat sedalam 20-25cm. Pembuatan saluran drainase bertujuan untuk mencegah terjadinya penggenangan air, karena tanama kedelai tidak tahan terhadap genangan. Selain itu fungsi dari drainase yang dibuat digunakan sebagai saluran air, drainase dibuat untuk memudahkan petani dalam merawat kedelai seperti pemupukan yang membutuhkan air.

Pada dasarnya mempertimbangkan pemilihan benih pada tanaman kedelai tidak serta merta hanya asal menanam saja. Penggunaan benih harus yang sehat dan memiliki kualitas mutu yang baik, selain itu benih yang digunakan yaitu benih yang sudah memiliki sertifikat dari lembaga tertentu seperti balai penelitian kacang-kacangan dan umbi – umbian, agar benih yang akan ditanam bebas dari adanya OPT sperti hama, penyakit yang berada pada benih dan terbukti keaslian dari mutu benih itu. Pemilihan benih yang baik juga dapat dilihat dari ciri fisik benih itu sendiri seperti bentuk benih yang oval , tidak timbul bercak hitam , tidak mengalami cacat dan permukaan benih halus.

Pemilihan varietas tanaman kedelai dapat dilakukan dengan cara melihat beberapa faktor, yang pertama pemilihan varietas dapat ditentukan dengan kondisi lahan seprerti lahan kering dan lahan yang tidak terlalu kering , mengapa kondisi lahan sangat menentukan varietas yang akan ditanam karena lahan dan varietas kedelai yang sesuai dengan kriteria mampu menghasilkan produk kedelai yang berkualtias dan pertumbuhan kedelai tidak mengalami hambatan. Selanjutnya varietas yang tahan terhadap gangguan OPT seperti hama,penyakit, virus yang menganggu pertumbuhan tanaman. Faktor terakhir yang sangat dipertimbangkan adalah tingkat harga, bentuk biji, kemudahan menjual hasil panen kedelai dipasaran, kerebahan tanaman, tipe tumbuh dan kebiasaan.

Pemupukan pada tanah sebelum ataupun pada saat penanaman kedelai sangat dibutuhkan karena pemupukan dapat membantu proses perkembangan kedelai dengan baik. Pemberian pupuk pada saat tanaman kedelai berumur 20-30 HST dilakukan dengan cara disebar secara merata dalam larikan diantara barisan tanaman kedelai atau dapat juga dengan memasukkan pupuk kedalam lubang tugal disisi kanan dan disisi kiri tanaman sejauh kurang lebih 10 cm.

Pengaplikasian pupuk harus seimbang agar tidak menurunkan kualitas dan kuantitas dari tanaman kedelai. Pemberian pupuk SP-36 dengan dosis 125 kg/ha lahan tanaman kedelai mampu membantu tanaman kedelai dalam pembentukan polong dengan baik, sehingga mampu meningkatkan jumlah produksi kedelai. Selain menggunakan pupuk SP-36, pemupukan bisa dengan menggunakan 75 kg urea/ha, dan 50 kg KCl/ha.

Budidaya tanaman kedelai tidak terlepas dari serangan hama dan penyakit, sehingga perlu dilakukan pengendalian agar tidak menurunkan kualitas dan kuantitas kedelai. Pengendalian OPT pada kedelai yang berbasis PHT dapat dilakukan dengan memanfaatkan agens hayati dan juga musuh alami hama. Pencegahan timbulnya serangan hama dan penyakit tanaman dapat dilakukan dengan pengaturan drainase, menggunakan bibit dan varietas tahan, melakukan sanitasi kebun, melakukan pemupukan berimbang, dan penggunaan perangkap. Apabila populasi serangga mengalami out break maka pengendalian alternatifnya dengan penggunaan pestisida namun secara selektif dan tidak berlebihan.

Proses pemanenan berhungan dengan waktu dan cara pemanenan serta alat yang digunakan dapat mempengaruhi jumlah dan mutu hasil kedelai. Proses pemanenan yang dilakukan lebih awal biji yang masih muda dan perontokan sulit dilakukan, begitu sebaliknya jika terlallu lambat dalam waktu panen akan menyebabkan hilangnya bji di lapang. Sehingga waktu panen pada kedelai harus diperhatikan seperti panen dilakukan ketika daun pada tanaman sudah menguning dan mulai rontok, banyaknya polong kedelai yang telah berubah warna menjadi coklat kekuningan. Tanaman kedelai dapat dipanen jika 98% polongnya sudah berubah warna. Pemanenan dilakukan pada pagi hari saat embun telah hilang, menghindari cara pemanenan dengan mencabut agar tanah, kotoran tidak terbawa, terakhir hasil panen dikumpulkan ditempat yang kering dan diberi alas.

Penanganan pasca panen dapat dilakukan dengan beberapa tahapan yaitu proses penjemuran, pemisahan biji, pengeringan, dan penyimpanan biji. Proses pasca panen sangat diperhatikan, karena kegiatan ini sangat mempengaruhi kualitas biji atau benih kedelai yang nantinya akan diolah. Kedelai yang nantinya akan diperjual belikan untuk dikonsumsi masyarakat sebaiknya dipetik pada umur 75 – 100 hari sedangkan untuk benih berumur 100 -110 hari. Penjemuran yang baik dilakukan diatas semen atau dialasi dengan terpal selama 2-3 hari setiap sore, setelah itu kedelai dikumpulkan lalu ditutup terpal agar tidak basah.

Pemisahan biji kedelai dari polongnya dilakukan dengan ditumbuk diatas plastik atau anyaman bamboo yang kemudian dipukul-pukul dengan kayu. Tahapan ini dapat juga dilakukan dengan mesin perontok. Setelah polong kedelai terkelupas maka pisahkan atau disortasi kulit polong, daun, ataupun batang dengan biji kedelai dengan cara ditampi. Biji kedelai yang sudah dibersihkan lalu dijemur kembali hingga kering agar tahan lama hingga kadar airnya 11-13%. Tahapan paling akhir dalam pengolahan pasca panen kedelai ini adalah penyimpanan. Penyimpanan kedelai bisa langsung dimasukkan kedalam karung goni yang dilapisi plastik lalu disimpan pada suhu kamar 27 derajat celcius.