Pernik Bisnis

8 Besar Produk Pertanian Indonesia

MENIPISNYA cadangan minyak dan gas mendorong pemerintah Indonesia menggenjot ekspor dari sektor non-migas. Saat ini, penghasil devisa terbesar dari sektor non-migas adalah batubara. Berikutnya adalah minyak kelapa sawit yang merupakan produk industri pengolahan, diikuti produk pertanian.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai total ekspor Indonesia sepanjang 2018 mencapai US$180,06 miliar, naik 6,65% dibanding tahun sebelumnya. Dari jumlah itu, sebanyak US$162,65 miliar di antaranya disumbang oleh sektor non-migas, yang mengalami kenaikan 6,25% dibanding 2017.

Jika dilihat berdasarkan sektor, industri pengolahan masih yang terbesar dengan nilai US$129,93 miliar untuk periode Januari-Desember 2018. Tambang dan lain-lain di urutan kedua dengan US$29,29 miliar. Migas di urutan tiga dengan US$17,40 miliar. Pertanian di posisi terbawah dengan US$3,44 miliar.

Meski hanya menyumbang sedikit devisa dibanding sektor lain, ekspor produk pertanian tidak bisa diabaikan. Kopi Indonesia masih menjadi primadona di pasar internasional. Bumi Pertiwi juga menghasilkan produk pertanian lain yang dibutuhkan dunia. Majalah PORTONEWS merangkum 8 produk pertanian Indonesia dengan nilai ekspor terbesar.

 

  1. Kopi

Indonesia adalah salah satu penghasil kopi terbaik dunia. Berbagai daerah di negeri ini memiliki kopi dengan keunggulan yang berbeda-beda. Mulai dari Gayo di Aceh, Kintamani di Bali, Toraja di Sulawesi, hingga Wamena di Papua punya kopi dengan karakternya yang unik.

Dengan banyaknya jenis, wajar kopi menjadi penyumbang devisa terbesar untuk Indonesia dari bidang pertanian. Ekspor kopi Indonesia untuk periode Januari hingga Oktober 2018 lebih dari US$662 juta.

Data World Atlas menyebutkan Indonesia menempati urutan empat eksportir kopi terbesar dunia, dengan volume ekspor mencapai 660.000 ton per tahun. Posisi pertama ditempati Brasil dengan lebih dari 2,5 ton per tahun. Berikutnya adalah Vietnam dengan 1,65 juta ton per tahun. Kolombia di tempat ketiga dengan 810.000 ton per tahun. Ethiopia melengkapi lima besar dengan 384.000 per tahun.

 

  1. Kacang-kacangan

Komoditas pertanian terbesar kedua yang diekspor Indonesia adalah kacang-kacangan. Produk yang dijual ke pasar internasional dalam bentuk segar dan kering, baik yang sudah dikupas atau masih beserta kulitnya.

Daerah penghasil kacang tersebar hampir merata di seluruh Indonesia, terutama di Sumatera. Mulai dari Aceh, Jambi, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, dan Riau. Daerah produsen utama lain adalah Jawa Timur, Bali, dan Sulawesi.

Pada 2017 ekspor kacang-kacangan Indonesia menghasilkan devisa sebesar US$292 juta. Tahun lalu, hingga Oktober 2018, ekspor kacang-kacangan sudah menyumbang US$262 juta untuk Indonesia. Masih ada peluang nilainya menyamai atau setidaknya mendekati karena BPS belum merilis data ekspor November dan Desember.

 

  1. Sayur-sayuran

Pada 2018, ekspor sayur-sayuran Indonesia mengalami kenaikan dari sisi volume dan nilai. Total produksi untuk periode Januari-Oktober 2018 mencapai 1,6 juta ton. Naik lebih dari 14% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat 1,4 juta ton. Nilai ekspornya meningkat lebih dari 12% dari US$116 juta menjadi US$130 juta.

Jenis sayuran andalan ekspor Indonesia antara lain kubis, sawi, dan kembang kol. Negara tujuan ekspor utama antara lain Thailand, Singapura, Malaysia, dan Belanda.

Data ekspor periode Januari-Maret 2017, produk hortikultura Indonesia tetap menjadi primadona di negara tujuanya. Ekspor sayuran pada 2017 seperti kubis, buncis, dan selada air menempati tiga tempat teratas untuk ekspor dengan volume 132.878 ton.

Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur menjadi penghasil sayuran terbesar di Indonesia. Di luar Jawa, daerah penghasil sayuran lain adalah Kalimantan Selatan.

 

  1. Lada

Rempah-rempah ini adalah salah satu alasan orang Eropa datang ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Di abad ke-16, lada diperebutkan oleh maskapai dagang Eropa. Tingginya permintaan yang disertai kurangnya pasokan membuat harganya naik tajam.

black peppers on white background

Selain banyak digunakan sebagai bumbu masak, lada juga punya manfaat medis. Lada dipercaya bisa membantu mengobati batuk, mengurangi gejala hidung tersumbat, dan mengatasi sakit kepala.

Hingga kini, Indonesia masih menjadi negara penghasil lada utama dunia. Posisinya di urutan tiga dengan menghasilkan 11% pasokan global, unggul tipis atas Cina yang porsinya 10%. Vietnam di urutan pertama dengan memasok 25% kebutuhan lada dunia. Peringkat dua ditempati India dengan 18%.

Daerah penghasil lada di Indonesia cukup tersebar antara lain di Pulau Bangka, Bengkulu, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Selatan. Ekspor lada Indonesia tahun lalu (hingga Oktober 2018) mencapai US$123 juta. Turun dibanding tahun sebelumnya yang tercatat US$198 juta.

 

  1. Gondorukem

Dibanding produk pertanian lain, gondorukem kurang populer. Di dunia internasional, getah dari pohon pinus ini dikenal dengan istilah rosin.

Gondorukem adalah salah satu bahan yang digunakan dalam pembuatan tinta printer, kertas, vernis, lem, sabun, alat solder, dan sealing wax. Gondorukem juga digunakan sebagai bahan pelapis dalam pembuatan obat-obatan dan permen karet.

Cina menjadi eksportir utama rosin dengan pangsa pasar sebesar 20%, sementara Indonesia hanya 6,9%. Importir utama komoditas ini adalah Jerman dengan menyerap 13% produk.

Ekspor gondorukem Indonesia tahun lalu mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya. Nilainya mencapai US$81,4 juta, naik dari US$71,6 pada 2017.

 

  1. Jagung

Ekspor jagung Indonesia mengalami kenaikan tajam pada 2018. Data BPS yang dioleh oleh Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan (PEN) memperlihatkan volume ekspor jagung sebesar 272.057 ton untuk periode Januari-Oktober. Nilainya mencapai hampir US$73 juta.

Pada 2017, ekspor jagung Indonesia hanya sebanyak 1.502 ton dengan nilai US$672.000. Nilai ekspor terbesar kedua dalam lima tahun terakhir tercapai pada 2015 dengan US$53,8 juta.

Jagung lebih banyak dimanfaatkan sebagai bahan pangan. Mulai dari sekadar direbus, dibakar, hingga diolah menjadi maizena untuk bahan baku kue.

Berdasarkan data Statista, Amerika Serikat masih menjadi penghasil utama jagung dengan 370 juta ton pada 2017-2018. Cina di urutan kedua dengan 215 juta ton dan Brasil di posisi ketiga dengan 82 juta ton. Indonesia menempati peringkat delapan dengan 19 juta ton.

 

  1. Vanili

Vanili lebih dikenal sebagai pengharum makanan, terutama untuk kue. Biasanya dijual dalam bentuk kering atau bubuk.

Pada 2016, negara penghasil vanila terbesar adalah Madagaskar dengan volume 2.926 ton. Indonesia menempati peringkat dua dengan 2.304 ton. Angka ini memperlihatkan kenaikan produksi di Asia dan Afrika. Panen vanila di kedua negara melebihi Cina (885 ton) dan Meksiko (513 ton).

Pada 2018, nilai ekspor vanila Indonesia mencapai US$63 juta. Nilainya turun dibanding tahun sebelumnya yang tercatat sebesar US$72,5 juta.

Daerah produsen utama vanili Indonesia adalah Sumatera Utara, Banyuwangi di Jawa Timur, Lampung, Pati di Jawa Tengah, Sumedang di Jawa Barat, dan Nusa Tenggara Timur (NTT).

Di Sumut terdapat ribuan hektar lahan tanaman vanili dengan kualitas yang baik. Namun vanili terbaik ada di NTT, khususnya yang ditanam di Flores.

 

  1. Kakao

Produk pertanian lain yang tidak kalah penting adalah kakao. Tanaman penghasil cokelat ini tumbuh di semua pulau di Indonesia, tapi dua yang terbesar adalah Sulawesi dan Sumatera.

Sulawesi menjadi pulau penghasil utama kakao dengan porsi 60% produksi nasional. Berikutnya adalah Sumetara dengan 20%.

Ekspor kakao Indonesia tahun lalu (hingga Oktober 2018) mencapai 24.038 ton dengan nilai US$62,9 juta. Dari sisi volume, ada kenaikan sekitar 8% dibanding tahun sebelumnya. Dari sisi nilai, kenaikannya mencapai 32,98%.

Indonesia menempati peringkat tiga penghasil kakao terbesar dunia di bawah Ghana dan Pantai Gading. Padahal hingga awal 1980an tidak ada lahan tanaman kakao di sini. Seperti di dua negara produsen utama di atas, tanaman kakao ditanam oleh petani kecil. Pola ini ternyata memang lebih efisien dibanding pengelolaan oleh perusahaan besar.

Pantai Gading memasok sekitar 30% kebutuhan kakao dunia. Produsen coklat seperti Nestle dan Cadbury mendapatkan mayoritas pasokannya dari Pantai Gading. Buat negera di Afrika itu, kakao adalah komoditas yang penting dengan menyumbang sepertiga pendapatan nasional. ℗ Henri Loedji

Redaksi

Recent Posts

Masa Depan Net Zero Indonesia: Transisi Energi Berkelanjutan

Jakarta, Portonews.com - Memberdayakan sebuah negara yang tersebar di kepulauan 17.000 pulau tidak mudah. Bagi Indonesia, menjadikan…

6 jam ago

Proyek Ikan Salmon Oak Bay Terancam Mati Lemas Karena Tumpahan minyak Victoria

Victoria, Portonews.com - Oil spill di Victoria memunculkan kekhawatiran terhadap proyek salmon Oak Bay. Sebuah…

8 jam ago

Waspada! Semeru Meletus

Erupsi Gunung Semeru itu terjadi pada pukul 12.42 WIB. Sementara tinggi kolom abu mencapai 1.500…

12 jam ago

Tak Kantongi Izin, Dua Proyek Reklamasi Batam Dihentikan

Batam, Portonews.com – Lantaran tak memiliki dokumen Izin Reklamasi dan Persetujuan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang…

12 jam ago

Harga Minyak Mentah Dunia Ambruk

Melansir data Refinitiv, sepanjang pekan ini harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) anjlok…

12 jam ago

Wow..!! Indonesia Miliki Potensi EBT 3.686 GW

Kapasitas terpasang pembangkit listrik di Indonesia di tahun 2022 mencapai 81,2 GW.

14 jam ago